Tarian Ndolalak dari Purworejo

Tarian Dolalak termasuk tarian rakyat jenis slawatan yang pementasannya dilakukan secara berpasang-pasangan.
Kesenian ini merupakan peninggalan pada jaman penjajahan Hindia Belanda, karena itu kostum yang dipakai merupakan seragam tentara kompeni jaman dulu kala.
Tarian rakyat ini termasuk tua dan hampir punah, sehingga jarang sekali dijumpai.
Bahkan kelompok yang masih adapun jarang mengadakan pementasan. Berdasarkan keterangan para orang tua, tidak aktifnya kesenian ini adalah karena para pemuda sekarang tidak lagi tertarik pada tarian tersebut.
Mereka enggan mempelajarinya, sehingga kesenian ini tidak bisa diwariskan dari orang-orang tua kepada anak-anak muda sekarang.
Fungsi dari kesenian ini hanyalah sebagai hiburan atau tontonan biasa. Jumlah pendukung pementasan nDolalak adalah sekitar 34 orang dengan perincian 28 orang sebagai penari, dan 6 orang sebagai pemain instrumen musik dan vokalis.
Para penari nDolalak mengenakan kostum yang realistis, terdiri dari peci (kopiah), baju, celana dan tanpa rias muka.
Gerak tarian mereka mengambil dari jurus-jurus yang terdapat dalam pencak silat seperti sempok, ngecek dan keplek.
Posisi kaki ada yang terbuka ada pula yang tertutup.
Pertunjukan nDolalak biasanya menggunakan tempat di halaman rumah penduduk.
Alat musik yang dipakai adalah 3 buah terbang genjreng dan 1 jedor. Tarian ini dipentaskan pada malam hari dengan lama ± 4 jam, dari jam 21.00 hingga jam 01.00.
Para penari adalah para pria yang rata-rata berusia antara 20 - 35 tahun.
Kesenian ini menggunakan konsep pentas berbentuk arena dengan desain lantai lurus.
Kelompok pemusik berada di halaman di dalam lingkaran, di antara para penonton dan para penontonnya berdiri mengelilingi.
Pada masa lalu alat penerangan yang biasa dipergunakan adalah lampu keceran atau lampu triom, sedangkan sekarang orang lebih sering memakai lampu petromak.

Comments

Popular posts from this blog

SPOT MANCING DIPURWOREJO

Sawunggalih, Awal Berdirinya Kota Kutoarjo

Sejarah Desa Semawung Daleman